Memahami Imajinasi dalam Pendidikan

Saya salah seorang pengagum ilmuan ternama, Alberth Einstein. Beliau pernah mengatakan bahwa “Imajinasi lebih penting dari pengetahuan dan logika”. Karena itu, sebagai seorang pendidik sering bertanya dalam hati mengapa imajinasi ini belum dilibatkan dalam proses berpikir dalam pendidikan kita di Indonesia.

Tulisan berikut ini adalah saduran dari sini, yang saya kutip dengan harapan dapat bermanfaat buat pendidikan serta menambah wawasan para pendidik tentang imajinasi.

Penulis, Gillian Judson mengungkapkan bahwa sungguh mengherankan bagi saya bahwa kita jarang berbicara tentang imajinasi dalam pendidikan.

Pada saat yang sama, saya mengerti mengapa ini terjadi: setidaknya sejak masa Platon, kita telah menghubungkan imajinasi dengan yang irasional; imajinasi adalah “fantasi” dan “bikin percaya.”

Imajinasi disalahpahami.

Banyak guru yang menyamakan “imajinasi” dengan pembelajaran awal. Hal ini tidak bisa jauh dari kebenaran. Yang lain menganggap diskusi tentang imajinasi dalam pendidikan mengacu pada kurikulum yang dipadukan dengan seni. Sekali lagi: tidak benar. Yang lain menganggap imajinasi sebagai “embel-embel” —siapa yang memiliki waktu untuk “flights of fancy” (An imaginative but unrealistic idea) ketika kontak yang kita miliki dengan siswa begitu terbatas dan tuntutan kurikuler begitu besar? Gagasan bahwa imajinasi bertentangan dengan pembelajaran akademis yang ketat adalah kesalahpahaman yang berbahaya.

Keyakinan ini berakar kuat dan, menurut saya, mengapa banyak guru tidak menghabiskan waktu pedagogis terfokus untuk memikirkan cara melibatkan imajinasi siswanya dalam pembelajaran.

Dan di sinilah letak kontradiksi yang besar.

Saya belum pernah benar-benar bertemu dengan orang yang percaya bahwa menjadi imajinatif adalah kualitas yang tidak berguna atau bahwa imajinasi adalah fitur yang tidak berguna dari pikiran manusia. Pada kenyataannya, kami tampaknya terus-menerus mengakui pentingnya. Kami menginginkannya untuk anak-anak kami — kami mengaguminya pada orang lain.

Namun kami mengabaikannya di sekolah.

Imajinasi telah Dipahami?
Saya suka psikolog Lev Vygotsky mengambil imajinasi. Dia mengatakan bahwa imajinasi adalah “fungsi psikologis yang lebih tinggi yang terkait dengan emosi dan semua aktivitas intelektual.” Dua kutipan singkat yang dapat membantu kita memahami imajinasi:

“… Imajinasi dalam geometri sama pentingnya dengan dalam puisi. Segala sesuatu yang membutuhkan transformasi artistik dari realitas, segala sesuatu yang berhubungan dengan interpretasi dan konstruksi sesuatu yang baru, membutuhkan partisipasi imajinasi yang sangat diperlukan ”

&

“… imajinasi, sebagai dasar dari semua aktivitas kreatif, merupakan komponen penting dari semua aspek kehidupan budaya, yang memungkinkan penciptaan artistik, ilmiah, dan teknis sama”

Demikian pula, filsuf pendidikan Kieran Egan menempatkan imajinasi di jantung semua pembelajaran — karyanya terus-menerus menunjukkan bagaimana imajinasi adalah salah satu karya besar dari semua pembelajaran. Imajinasi mewakili kemampuan untuk membayangkan kemungkinan dalam segala hal. Imajinasi adalah sesuatu yang bisa kita didik; kami dapat memperkaya kapasitas ini pada siswa kami saat mereka mempelajari semua aspek kurikulum.

Teori Pendidikan Imajinatif mencontohkan cara-cara khusus untuk melibatkan emosi dan imajinasi dalam pembelajaran. Ini adalah demonstrasi Kieran Egan tentang cara-cara praktis yang dapat digunakan semua guru untuk memanfaatkan kekuatan generatif imajinasi dalam semua konteks.

Dua Poin Kunci untuk Pendidik
1. Imajinasi berperan dalam semua pembelajaran — semua orang, semua tempat.

2. Ada alat kognitif tertentu yang kita gunakan sebagai makhluk imajinatif untuk memahami dunia. Ini adalah alat yang dapat digunakan pendidik untuk membuat apa yang mereka ajarkan bermakna, berkesan, dan menginspirasi.

Alat dalam perangkat pendidik imajinatif mencakup hal-hal seperti anomali, naratif, agensi, humanisasi, misteri, keajaiban, bentuk cerita, citra, ritme & pola, humor, ekstrem dan batas realitas, dan banyak lagi.

Mengambil tindakan
Perhatian saya adalah bahwa para guru akan melanjutkan dengan cara mereka yang berdedikasi dan bekerja keras, tanpa merasakan potensi imajinasi yang nyata untuk meningkatkan pembelajaran siswa mereka atau strategi praktis yang dapat mereka terapkan untuk mengajarkan konsep yang mereka sukai dengan lebih baik.

Harapan saya, imajinasi bisa dipahami.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *