Ketulusan dalam Dunia Pendidikan

Kurikulum 2013 telah menawarkan banyak idealisme baru yang merupakan refleksi dari jauhnya harapan ideal pencapaian tujuan mulia pendidikan di Indonesia seperti yang tercantum dalam Undang-undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Pasal 3 yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berakhlak mulia sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Keresahan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan rendahnya kualitas pendidikan, minimal dari indikator: nilai keagamaan, sikap sosial, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penerapannya menjadi dasar berpikir untuk mencari solusi terbaik akan masalah ini. Banyak hal yang telah dilakukan pemerintah dalam membenahi carut marut dunia pendidikan yang ibarat benang kusut, mulai dari: pembenahan infra struktur sekolah secara besar-besaran dengan tujuan agar kondusifitas proses pembelajaran dapat terwujud; melaksanakan program sertifikasi guru sejak tahun 2007 hingga sekarang dengan penyempurnaan setiap tahunnya demi peningkatan kesejahteraan guru; dan yang terkini adalah meluncurkan kurikulum terbaru yang dikenal dengan nama Kurikulum 2013 untuk mengembangkan dan menyempurnakan kurikulum sebelumnya.

Pada saat program Sertiikasi Guru diluncurkan, semua pihak berharap bahwa kualitas pendidikan akan segera dapat ditingkatkan dalam waktu singkat, akan tetapi kenyataan berkata lain, survey Bank Dunia menunjukkan bahwa sertifikasi guru ternyata tidak mengubah perilaku dan praktek mengajar guru serta belum meningkatkan prestasi guru dan siswa secara signifikan (Kompas, 18 Desember 2012). Bahkan banyak keluhan guru yang belum tersertifikasi yang mengeluhkan bahwa umumnya teman sejawatnya yang telah tersertifikasi justru semakin rendah kinerjanya. Hal ini sangat mungkin disebabkan sebagian besar di antara mereka menjadikan predikat guru profesional dan memperoleh sertifikat pendidik menjadi tujuan utama, padahal semestinya hanya menjadi alat untuk lebih mengembangkan kompetensinya. Sampai sekarang ini, belum ada upaya secara menyeluruh untuk mengevaluasi kinerja guru tersertifikasi ini, kecuali baru sampai pada Uji Kompetensi (UK). Dengan program peningkatan kesejahteraan guru, juga memberi efek domino (multiplayer effect) pada meningkatnya minat generasi muda dalam memilih profesi guru. Hal ini menjadi buah simalakama bagi dunia pendidikan, dimana masukannya di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan) belum tentu memiliki jiwa keguruan, tetapi hanya melihat gaji guru sekarang ini layak jika dibandingkan dengan profesi lainnya.

Adapun solusi teranyar yang ditawarkan pemerintah adalah pengembangan kurikulum, dimana menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 1, bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Betulkah permasalahnnya ada pada kurikulum yang selama ini digunakan? Ini tentu tidak dapat dilihat dari hanya satu persfektif, karena pembelajaran sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Artinya, ketika terjadi proses pembelajaran baik di ruang kelas ataupun di lingkungan, maka yang memegang peranan penting adalah guru sebagai fasilitator yang bertanggung jawab dalam efektifnya sebuah proses pembelajaran. Tentu saja dasarnya adalah kurikulum sebagai pedoman pembelajaran.

Salah satu dasar dalam pengembangan kurikulum 2013 adalah masih terdapat beberapa masalah dalam kurikulum 2006, yakni:

  1. Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.

Telaahan: Aspek lain yang menjadi pertimbangan pengembangan Kurikulum 2013 adalah dari sisi kemampuan berpikir abstak siswa yang belum memadai, tetapi ternyata proporsi materi matematika justru jauh lebih banyak dari materi IPA dan IPS berdasarkan struktur kurikulum 2013. Sementara itu, di PAUD telah dikembangkan tema untuk memperkenalkan konsep dasar IPA melalui kegiatan pembelajaran sains sederhana.

  1. Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.
  2. Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
  3. Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum.
  4. Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
  5. Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
  6. Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala.
  7. Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.

Adapun salah satu alasan pengembangan kurikulum 2013 adalah terpenuhinya kompetensi masa depan bagi anak didik, yakni:

  1. Kemampuan berkomunikasi
  2. Kemampuan berpikir jernih dan kritis
  3. Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan
  4. Kemampuan menjadi warga negara yang efektif
  5. Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda
  6. Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal
  7. Memiliki minat luas mengenai hidup
  8. Memiliki kesiapan untuk bekerja
  9. Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya

Alasan lain dari pengembangan kurikulum 2013 adalah munculnya fenomena negatif, yakni: perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, pecurangan dalam ujian, dan gejolak masyarakat (social unrest).

Sejenak menoleh pada perpektif pendidikan, bahwa setiap peserta didik yang terlibat dalam proses pembelajaran sebagai subjek, memiliki karakteristik yang berbeda, yang dipengaruhi oleh bawaan sejak lahir, pendidikan keluarga, dan suasana lingkungan (masyarakat).

Pertanyaan lain yang harus dikemukakan adalah: Apakah keberhasilan seorang peserta didik seluruhnya karena faktor proses pembelajaran yang terjadi di sekolah? Sementara itu, masih terdapat 2 lembaga pendidikan lain yang turut memberi kontribusi pembentukan karakter anak, yakni keluarga dan lingkungan masyarakat.

Dalam banyak alasan, kebanyakan orang lebih menganut aliran pendidikan Konvergensi yang dirintis oleh William Stern (1871-1939) dibadingkan dengan aliran Nativisme yang tokoh utaanya adalah Arthur Schopenhaur (1788-1860) dan aliran Empirisme yang dirintis oleh John Locke (1704-1932). Hal ini disebabkan karena kedua aliran tersebut (Nativisme dan Empirisme) mempunyai kelemahan yakni sifatnya yang eksklusif dengan cirinya yang ekstrim berat sebelah.

Sebuah analogi sederhana dalam pendidikan keluarga, yakni umumnya orang tua mendidik anak menggunakan “kurikulum” yang sama, tapi hasil pendidikannya bisa berbeda yang dapat dilihat dari perilaku, pengetahuan dan kemampuan masing-masing anak berbeda. Demikian halnya jika seorang guru mengajar pada sekelompok peserta didik dengan melaksanakan pembelajaran berdasarkan kurikulum yang ada, apakah hasilnya pendidikannya sama? Fakta menunjukkan bahwa dengan proses yang sama pada sekelompok siswa yang diajar, maka produknya akan memiliki kemampuan yang berbeda. Jadi masalahnya ada dimana? Apakah kurikulum, peserta didik atau gurunya. Tentu untuk menjawab hal ini tentu butuh analisis yang sangat dalam, tapi menurut penulis bahwa faktor utama rendahnya kualitas pendidikan justru terletak pada sumber daya pendidiknnya (guru) dan kemudian rendahnya motivasi dan banyaknya faktor eksternal yang mempengaruhi peserta didiknya.

Beberapa fakta yang tak terbantahkan yang menyebabkan sulitnya mencapai kualitas pendidikan yang diharapkan berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 dapat dilihat dari fenomena berikut:

  1. Banyak mahasiswa calon guru yang ada di LPTK dewasa ini, tidak lagi berorientasi pada penguasaan ilmu dan etika memperoleh ilmu, tetapi lebih berorientasi pada memperoleh nilai dengan simbol-simbol yang mengikuti predikat nilai tersebut untuk menjadi kebanggaannya.
  2. Kebanggaan orang tua yang jauh lebih besar pada anaknya yang memperoleh nilai yang tinggi, dan lalai mengkonfirmasi kualitas kemampuan anaknya berdasarkan nilai yang diperolehnya.
  3. Penyelenggara pendidikan lebih mengutamakan kuantitas dari pada kulaitas.
  4. Sebagian mahasiswa FKIP yang menjadi calon guru tidak menunjukkan niat yang tulus untuk menjadi guru, sehingga perilaku kesehariannya tidak mencerminkan nilai-nilai keguruan, misalnya: dari cara berpakaian, pada saat ujian menyontek, diberi tugas oleh dosen minta orang lain yang kerjakan, kurang motivasi belajarnya.
  5. Tingkat penguasaan materi, terutama pada konsep-konsep tertentu sangat rendah, bahkan ditemukan banyak di antara mereka yang
  6. Kemampuan guru dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi proses dan produk pembelajaran masih cukup
  7. Kebanyakan mahasiswa S1 yang tidak membuat sendiri skripsinya, tetapi pada umumnya hanya memesan pada biro jasa pembuatan skripsi, sehingga tidak memiliki uapaya berpikir kritis dan analitis dalam melihat suatu konteks.

Pembelajaran dengan format tematik integratif adalah sebuah konsep ideal, dan melaksanakannya tidak semudah yang dibayangkan oleh pembuat kurikulum, dan dibutuhkan sosok seorang guru yang mumpuni dengan penguasaan konsep yang memadai.  Kontradiksi dengan harapan ini, masih sangat banyak guru yang keliru  konsepnya khususnya konsep IPA yang penulis selama ini temui, baik pada saat mengajar maupun pada saat menguji mahasiswa dengan materi ajar yang dijadikan penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut hemat penulis, bahwa pembelajaran tematik integratif selayaknya diajarkan oleh tim guru konsep eksak dan dan non eksak, Hal ini didasarkan pada kenyataan selama ini bahwa minat penguasaan konsep guru selama ini relatif terbagi ada kedua kutub bidang tersebut. Sebagai illustrasi pembelajaran di SD, sulit rasanya menemukan profil seorang guru yang menguasai semua konsep pada 5 bidang ke-SDan.

Faktor lain yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia tidak kunjung beranjak naik karena sistem pendidikan kita lebih menghargai aspek administratif dibandingkan dengan subtantif.

Sebuah analogi sederhana, jika kurikulum diibaratkan sebuah handphone dengan segala fiturnya (fasilitasnya) yang akan digunakan oleh peserta didik dan diajarkan oleh guru dengan mempetimbangkan aspek-aspek berikut: 1) tidak boleh sms dan menelpon dengan cara yang tidak pantas, tidak boleh mengakses situs-situs yang yang tidak layak (afektif); 2) setiap siswa harus memahami dasar-dasar dan kegunaan tiap fitur yang disiapkan oleh provider (kognitif); dan 3) dan dapat menggunakannya dengan baik (psikomotorik).

Jika berdasar pada analogi di atas, maka kenyataan menunjukkan bahwa banyak pengguna handphone sekarang ini memiliki perangkat hp dengan kecangihan fitur yang dimilikinya, tapi fasilitas yang dapat digunakannya hanya sms dan call, padahal masih banyak fitur lain yang lebih bermanfaat tapi tidak diketahui cara penggunannya serta manfaat yang diperoleh jika menggunakannya. Jika seorang guru hanya bisa sms dan menelpon saja, maka agak sulit mengharapkan anak didiknya akan melebiihi kemampuan gurunya.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ibarat handphone dengan sisitem operasi dengan segala kelebihan yang dimiliki telah disanjung-sanjung pada masanya, dan dalam waktu kurang lebih 4 tahun dimanfaatkan oleh guru dalam mencapai tujuan pendidikan dan kini dianggap banyak kemampuannya yang harus diupgrade, maka disempurnakan menjadi sebuah smartphone yang sistem operasinya telah disempurnakan disertai pengembangan beberapa fitur dengan segala kecangihannya berupa Kurikulum 2013 sebagai “Smartcurriculum”.

Kecanggihan fitur-fitur smartphone dengan sistem integrasi fungsi sesungguhnya memberi kemudahan bagi pengguna (guru) dalam memanfaatkannya untuk mencapai tujuan, namun kadang hanya sebagian dari pengguna yang memahami pengoperasiannya secara utuh, bahkan terkadang sebagian anak (siswa) lebih kreatif mencoba-coba hingga kebablasan dalam penggunaanya. Inilah fenomena yang terjadi, dimana sebagian guru belum memahami sistem operasi dari suatu kurikulum yang berlaku, lalu kemudian muncul kurikulum versi baru, dan harus mulai dari dasar lagi.

Penyempurnaan kurikulum adalah hal yang pasti, seiring perkembangan zaman. Akan tetapi jika penggunanya tidak mampu menyesuaikan dengan kecepatan perubahan ini, maka dapat dipastikan bahwa peserta didik akan menjadi korban keganasan perubahan ini.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa produk (siswa berkarakter) tidak dihasilkan sesuai harapan, bukan kesalahan mutlak kurikulumnya, tetapi kemungkinan dari sisi tidak dimanfaatkannya sebagian fitur, artinya fiturnya ada tapi tidak dimanfaatkan dengan baik, sehingga yang paling penting sekarang ini adalah optimalisasi penggunaan fitur sambil mengembangkan versi terbaru yang lebih mudah penggunaanya.

Salah satu konsekuensi kurikulum 2013 adalah adanya tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar, guru memiliki keleluasaan waktu untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi siswa aktif. Proses pembelajaran siswa aktif memerlukan waktu yang lebih panjang dari proses pembelajaran penyampaian informasi karena peserta didik perlu latihan untuk mengamati, menanya, mengasosiasi, dan berkomunikasi. Proses pembelajaran yang dikembangkan menghendaki kesabaran guru dalam mendidik peserta didik sehingga mereka menjadi tahu, mampu dan mau belajar dan menerapkan apa yang sudah mereka pelajari di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitarnya. Selain itu bertambahnya jam belajar memungkinkan guru melakukan penilaian proses dan hasil belajar.

Perspektif baru dalam kurikulum 2013 adalah adanya Kompetensi Inti, yang dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan sikap keagamaan (Kompetensi Inti 1), sikap sosial (Kompetensi Inti 2), pengetahuan (Kompetensi Inti 3), dan penerapan pengetahuan (Kompetensi Inti 4). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan dan penerapan pengetahuan.

Ketika KTSP diberlakukan, maka sebagian komponen kurikulum dirakit di tingkat lokal (sekolah), kadang-kadang sebagian komponen rakitan baru di tingkat lokal tidak kompatabel dengan komponen yang didatangkan dari pusat, sehingga kerja sistem operasi kurikulum menjadi kurang efisien, belum lagi fitur-fiturnya agak rumit dioperasikan, sehingga kurikulum versi terbaru yang lebih smart dapat lebih simple operasinya, sehngga guru lebih mudah mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam Kurikulum 2013, guru juga telah dilengkapi dengan: 1) Pedoman Proses Pembelajaran; 2) Pedoman Penilaian; 3) Pedoman Pelaksanaan Remedi;         4) Materi Pengayaan; dan 5) Pedoman Interaksi Guru, Siswa dan Orang Tua. Meskipun demikian, semua berharap semoga guru-guru di masa yang akan datang tidak justru kehilangan kreativitas karena seluruh perangkat pembelajarannya telah disiapkan,

Akhirnya, dengan segala telaah kontekstual yang mendasari lahirnya kurikulum 2013 yang telah dikemas sempurna ini, sayangnya masih dalam tarap diujicobakan secara menyeluruh sehingga jika hasil yang diharapkan masih jauh dari kenyataan yang ada, maka apa yang harus dilakukan pemerintah (Kemdikbud)? Hanya waktu yang dapat menjawab.

[/pl_text]
[/pl_col]
[/pl_row]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *